Sabtu, 08 November 2014

Belajar dan Bermain Geomon Matematika

         Alat peraga ini berjudul “GEOMON Matematika” . Alat ini berbentuk persegi dengan ukuran 50cmx 50cm. Alat ini terbuat dari papan triplek yang didesain menarik supaya siswa dalam belajar bangun ruang seperti kubus, balok dan limas lebih senang. Alat ini menggunakan bahan tambahan seperti seng dan magnet. Seng dan magnet berfungsi ketika alat peraga ini digantungkan didinding. Dilihat dari depan, nampak gambar seperti permainan monopoli khas dengan petak-petak, dadu, uang monopoli dan pion-pion. Pada umumnya permainan monopoli hanya bisa dimainkan pada posisi mendatar/ horisontal seperti halnya bermain catur. Namun, alat peraga ini didesain dengan dua posisi, yaitu posisi horisontal ( ditaruh diatas meja/ lantai ) dan posisi vertikal ( bisa digantungkan didinding). Alat peraga ini dapat dimainkan 2- 5 orang dengan salah satu pemain menjabat sebagai pejabat bank. Aturan permainanya tidak jauh berbeda dengan permainan monopoli pada umumnya, tetapi ada beberapa peraturan yang berbeda seperti sertifikat diganti dengan formula card, setiap melewati petak harus menjawab pertanyaan yang telah disediakan, dan sebagainya.

MATEMATIKA DAN CARA MENGAJARKANNYA

         Jika merunut catatan sejarah, Matematika telah lahir sejak 3000 SM yaitu pada saat Bangsa Mesir Kuno dan Babilonia mulai menggunakan aritmetika, aljabar, dan geometri untuk keperluan astronomi, bangunan dan konstruksi, perpajakan dan urusan keuangan lainnya. Sistematisasi matematika menjadi suatu ilmu, baru terjadi pada zaman Yunani Kuno yakni antara tahun 600 dan 300 SM. Sejak saat itu matematika mulai berkembang luas, interaksi matematika dengan bidang lain seperti sains dan teknologi semakin nampak. Kini, matematika telah menjadi alat penting dalam berbagai hal. Hampir setiap bidang ilmu dan teknologi memakai matematika. Dalam realita yang demikian, penguasaan terhadap matematika menjadi syarat perlu agar dapat mempertahankan eksistensi di era perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini.
         Pembelajaran matematika secara formal umumnya diawali di bangku sekolah. Sementara itu, matematika di sekolah masih menjadi pelajaran yang menakutkan bagi para siswa. Di antara berbagai faktor yang memicu hal ini adalah proses pembelajaran yang kurang asyik dan menarik. Model pembelajaran yang sering di temui pada pembelajaran matematika adalah proses pembelajaran bercorak “teacher centered”, yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru. Sehingga guru menjadi pemeran utama dan kehadirannya menjadi sangat menentukan. Pembelajaran menjadi tak dapat dilakukan tanpa kehadiran guru. Siswa cenderung pasif dan tidak berperan selama proses pembelajaran. Sehingga proses yang muncul adalah “take and give”. Dalam merangkai pembelajaran, guru pada umumnya terbiasa dengan model standar, yakni pembelajaran yang bermula dari rumus, menghapalnya, kemudian diterapkan dalam contoh soal.

         Model pembelajaran yang demikian tidak memberi ruang bagi siswa untuk melakukan observasi (mengamati), eksplorasi (menggali), inkuiri (menyelidiki), dan aktivitas-aktivitas lain yang memungkinkan mereka terlibat dan memahami permasalahan yang sesungguhnya. Model seperti ini yang mengakibatkan matematika bak kumpulan rumus yang menyeramkan, sulit dipelajari, dan nampak abstrak.


Bagaimana Sebaiknya Matematika Diajarkan?

        Matematika adalah ilmu realitas, dalam artian ilmu yang bermula dari kehidupan nyata. Selayaknya pembelajarannya dimulai dari sesuatu yang nyata, dari ilustrasi yang dekat dan mampu dijangkau siswa, dan kemudian disederhanakan dalam formulasi matematis. Mengajarkan matematika bukan sekedar menyampaikan aturan-aturan, definisi-definisi, ataupun rumus-rumus yang sudah jadi. Konsep matematika seharusnya disampaikan bermula pada kondisi atau permasalahan nyata. Berikut tahapan pengajaran yang dapat dilakukan:

  1. Siswa dibawa untuk mengamati dan memahami persoalan terlebih dahulu. Selanjutnya perkenalkan beberapa definisi penting yang harus dipahami agar siswa memiliki bekal untuk memahami fenomena-fenomena yang mereka temukan di lapangan.
  2. Ajak siswa untuk melakukan eksplorasi, mencoba-coba, dan biarkan mereka melihat apa yang terjadi. Di sini akan ada proses memunculkan ide-ide kreatif yang boleh jadi diluar dugaan guru. Di sinilah ruang kreatifitas terbentuk. Siswa akan lebih menikmati proses pembelajaran yang dilakukan.
  3. Biarkan siswa membuat hipotesis/dugaan atas apa yang mereka lakukan.
  4. Guru bersama siswa membahas kegiatan yang dilakukan. Berikan kesempatan pada para siswa untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka. Kemudian baru dilakukan proses verifikasi, meluruskan apa yang sudah dilakukan sehingga muncul formula atau rumus atau model yang dapat dijadikan rujukan ketika siswa menemukan persoalan serupa.
  5. Satu hal yang juga tidak kalah penting adalah proses mengapresiasi. Seandainya hipotesis yang diambil oleh siswa ternyata kurang tepat maka guru hendaknya tetap memberi apresiasi. Dengan seperti itu, maka siswa akan tetap terpacu motivasinya.


         Sebagai contoh dalam pembelajaran mengenai perbandingan trigonometri . Pembelajaran trigonometri sering kali ditakuti karena yang nampak ke permukaan adalah simbol-simbol dan rumus-rumus yang abstrak. Adapun maknanya jarang diangkat dan dipahamkan kepada para siswa. Perbandingan trigonometri sesungguhnya berawal dari persoalan nyata. Berikut salah satu alternatif pengajaran yang dapat dilakukan:
  1. Guru terlebih dahulu menjelaskan definisi-definisi penting sebagai bekal bagi mereka untuk melakukan observasi dilapangan.
  2. Selanjutnya minta para siswa untuk mengukur tinggi benda-benda seperti tiang bendera, pohon, bangunan kelas, dan lain-lain. Biarkan mereka berekslporasi menemukan caranya sendiri. Dari sisni tentu akan ada beragam cara yang diusulkan siswa agar dapat mengukur tinggi benda-benda tersebut. Dalam hal ini guru bertugas mengakomodir berbagai respon yang muncul, membimbing, dan mencoba mengarahkan para siswa agar tidak terlalu keluar dari wilayah yang dijadikan tujuan.
  3. Berikutnya guru dapat mengarahkan siswa untuk menerapkan perbandingan trigonometri dalam permasalahan tersebut. Misalnya akan diukur tinggi pohon P. Minta salah seorang siswa, katakanlah siswa A, berdiri dalam jarak tertentu terhadap benda yang ingin diukur ketinggiannya. Misalkan jaraknya x meter. Dengan bantuan klinometer dapat diketahui besarnya sudut yang dibentuk oleh siswa A dengan pohon P, katakanlah sudut yang dibentuk adalah ?. Dengan menggunakan aturan tangent, dengan mudah akan diperoleh tinggi pohon P. yakni:
    Tinggi pohon P = x tan(?)

  1. Ajak siswa membandingkan efektifitas dan tingkat kemudahan berbagai macam cara yang diperoleh melalui kegiatan tersebut. Dari sini akan diperoleh gambaran bahwa matematika khususnya perbandingan trigonometri dapat mempermudah menyelesaikan permasalahan yang ada.
  2. Kegiatan pembelajaran dapat diakhiri dengan meminta siswa menuliskan rangkaian kegiatan yang dilakukan hingga hasil akhir yang dicapai. Dengan ini, kemungkinan besar siswa dapat lebih memahami konsep perbandingan trigonometri.


          Proses pembelajaran seperti ini, jika terus dilakukan dan dikembangkan dalam berbagai topik pembelajaran matematika , dimungkinkan akan menciptakan pembelajaran matematika yang lebih asyik dan menarik, sekaligus mengikis pencitraan buruk dan menakutkan yang melekat padanya.

Kenalkan Matematika pada Balita

Matematika ada dalam kehidupan sehari-hari anak: operasi penjumlahan, pengurangan, dan pengenalan bentuk geometri.

Bagi orang tua pada umumnya, balita terlalu muda untuk bermatematika. Padahal, pengenalan anak dengan kegiatan matematis telah berlangsung sedini mungkin.

Matematika adalah bidang yang merupakan kumpulan dari bermacam pola. Tak ada satu pun kegiatan yang lebih disukai anak-anak kecil, selain mencari dan mengenali berbagai pola dalam dunianya, jelas Gerhard N. Mueller, profesor didaktika matematika dari Dortmund, Jerman.

Pola yang menarik perhatian bayi dan batita, misalnya susunan batu bata yang saling berseling, juga pola rajut karpet yang memiliki pola susunan unik. Hal-hal sederhana semacam itu kerap kali tak disadari orang tua sebagai kegiatan matematis.

Untuk anak lima tahun, bidang matematika mencakup kegiatan yang lebih canggih. Misalnya, pengenalan bentuk-bentuk geometri, pengenalan angka belasan dan puluhan, termasuk juga pengenalan beragam operasi matematika, seperti penjumlahan dan pengurangan.

Tentu saja, orang tua tak perlu khawatir anak-anak terlalu dini berkenalan dengan matematika. Sebab, keseharian menuntun mereka lebih akrab dan mahir dengan matematika. Sebagai contoh, anak menyadari permen jelinya berkurang dalam kemasan setiap kali ia mengambil satu dan mengunyahnya. Selajutnya, mulailah ia berhitung sisa yang ada.

Belajar menggunakan rasa. Yang juga menonjol pada anak lima tahun, ia mulai melibatkan seluruh inderanya saat berhitung. Selain menjumlah dan mengurangi menggunakan bantuan jemari, bahkan beberapa anak usia empat tahun, memiliki insting bahwa hasil sebuah penjumlahan salah.

Anak usia empat sampai lima tahun biasanya sibuk memahami, apakah mungkin empat tambah dua sama dengan 10 atau 12 atau delapan? Mereka belajar merasakan kebenaran, meskipun menebak langsung hasil yang benar juga menyenangkan, jelas ahli matematika asal Skotlandia, Augustinus de Morgan .

Sebaliknya pun demikian. Si lima tahun yang cerdik mengetahui bahwa jumlah yang Anda sebut secara asal adalah jawaban yang salah, hanya dengan merasakan, menggunakan naluri. Anda bisa jadi terkejut melihat, bagaimana si lima tahun semakin mahir dan jenius di bidang ini, melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam keseharian.

Yang penting dilakukan orang tua adalah membimbing anak tanpa memaksa. Bimbingan yang menstimulasi dan menggugah semangat anak mengenal dunia matematika perlu dilakukan orang tua. Seperti, mengenalkan berbagai bentuk geometri, membaca jam atau menghitung jumlah potongan wortel dalam sup yang dimakan.

Selain itu, tak perlu buru-buru mengoreksi jika anak salah menghitung atau memahami sebuah fenomena matematis. Kesalahan dalam matematika, meminjam kata Prof. Mueller, adalah hal yang indah dan luar biasa.

Jadi, tak perlu merasa harus segera mengoreksi, cukup beri sedikit petunjuk. Biarkan anak mendapatkan hasil dengan caranya sendiri.